Senin, 27 November 2017

Fraktur


   Fraktur adalah patah atau retak pada tulang. Ada beberapa jenis fraktur, namun fraktur yang mengakibatkan fragmen tulang menembus permukaan kulit (disebut fraktur terbuka) sangat berbahaya. Hilangnya posisi normal ekstremitas yang retak dapat menghalangi aliran darah ke anggota tubuh yang terkena. Menurut Smeltzer, 2001. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai tipe dan luasnya . Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa (Sjamsuhidayat, 1997). Sedangkan menurut Doenges (2000), fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Fraktur adalah patah atau gangguan kontinuitas tulang (Depkes, 1995).
  • Dislokasi terjadi ketika 2 tulang tidak pada tempatnya di sendi yang menghubungkannya.
  • Dislokasi juga dapat menyebabkan luka pada saraf dan pembuluh darah.
  • Sendi yang menjadi terkilir dan kemudian sembuh lebih cenderung terkilir lagi.

       Klasifikasi
1.     Menurut penyebab terjadinya
                 a.       Faktur Traumatik                                : direct atau indirect
                 b.     Fraktur Fatik (Stress)                          : kerusakan tulang karena lemahnya yang terjadi akibat tegangan berlebihan
                 c.     Fraktur patologos                                : karena adanya penyakit lokal pada tulang. contoh : steoporosis
                 d.       Trauma berulang, kronis, misal: fr. Fibula pd olahragawan dll.

2.     Menurut hubungan dengan jaringan ikat sekitarnya
a.     Fraktur Tertutup/ Closed/ Fraktur Simplex : Bila tidak terdapat hubungan antarafragmen tulang dengan dunia luar, atau patahan tulang tidak mempunyai hubungandengan udara terbuka.
b.     Fraktur Terbuka/ Open : Bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengandunia luar karena adanya perlukaan di kulit. Kulit robek dapat berasal dari dalam karenafragmen tulang yang menembus kulit atau karena kekerasan yang berlangsung dari luar.
c.     Fraktur Komplikasi : kerusakan pembuluh darah, saraf, organ visera dan persendian juga ikut terkena. Fraktur seperti ini dapat berbentuk “fraktur tertutup” atau “fraktur terbuka”. Contoh : fraktur pelvis tertutup+rupture vesica urinaria, fraktur costa+luka pada paru-paru, fraktur corpus humerus+paralisis nervus radialis
         3.   Menurut bentuknya
•Fraktur Komplet : Garis fraktur membagi tulang menjadi 2fragmen atau lebih. Garis fraktur bisa transversal, oblique, spiral.
•Fraktur Inkomplet
•Fraktur Kominutif
•Fraktur Kompresi / Crush fracture
•Kelainan ini menentukan arah trauma, fraktur stabil atau tidak
    Gejala fraktur atau dislokasi
    • Nyeri tekan, pembengkakan, deformitas (perubahan bentuk), dan perubahan warna terjadi dengan fraktur dan/ atau dislokasi.
    • Perdarahan terjadi saat tulang yang retak menusuk kulit (fraktur atau fraktur terbuka).
    • Sensasi yang dapat hilang di bawah fraktur atau dislokasi, menunjukkan kemungkinan cedera saraf dan/ atau pembuluh darah. 
    •  Penyebab Terjadinya Fraktur dan Dislokasi
      1. Akibat Trauma dan benturan yang keras pada bagian tubuh tertentu
      2. Akibat tekanan yang terus menerus dan berlangsung lama
      3. Adanya keadaan tidak normal pada tulang atau penyakit tertentu
      4. Usia juga ikut mempengaruhi.

      Tindakan pada korban fraktur atau dislokasi
      1. Carilah perawatan medis sesegera mungkin setelah dicurigai adanya fraktur atau dislokasi. 
      2. Korban mungkin masih bisa memindahkan ekstremitas yang retak. Bila ragu, cari bantuan medis. 
      3. Carilah pertolongan medis segera jika fraktur atau dislokasi menembus kulit, jika ekstremitas terasa dingin, atau jika denyut nadi atau sensasi berkurang. 
      4. Carilah perhatian medis segera untuk dislokasi siku, lutut, dan pinggul karena kerusakan saraf mungkin
          terjadi. 
      5. Konsultasikan dengan dokter tentang pengobatan dengan obat yang tersedia. 
    Penanganan fraktur atau dislokasi
    Jika perhatian medis tidak tersedia, cobalah panduan berikut untuk mengobati fraktur atau dislokasi:
    • Berikan pack es ke area fraktur atau dislokasi untuk mengurangi pembengkakan dan untuk menghilangkan rasa sakit.
    • Basahi luka terbuka yang terkait dengan fraktur dengan air bersih dan segar dan tutupi dengan perban kering.
    • Lepas area yang terluka agar tidak bergerak. Lindungi tungkai yang patah dengan menggunakan bahan terbaik yang tersedia, seperti batang kayu, bagian dari kerangka ransel, atau perangkat penstabil lainnya. Bungkus dengan pita di sekitar belat dan ekstremitas yang terkena. Usahakan untuk melumpuhkan sendi di atas dan di bawah fraktur. Misalnya, jika lengan bawah patah, belat harus meliputi dari pergelangan tangan ke tangan dan melintasi siku ke lengan atas, menopang lengan bawah tanpa memposisikan ulangnya.
    • Pantau ekstremitas di dekat fraktur atau dislokasi, menilai hilangnya sensasi, penurunan suhu, dan denyut nadi.
       Jika belum ada bantuan medis, membenarkan kembali ekstremitas yang retak atau terkilir dapat memulihkan atau membenarkan posisi bagian yang patah dapat memulihkan sirkulasi aliran darah, tetapi juga dapat menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada jaringan, pembuluh darah, atau saraf.
    Nyeri bisa dikurangi dengan 1-2 tablet parasetamol (Tylenol) setiap 4 jam atau 1-2 tablet ibuprofen (Advil, Motrin) setiap 6-8 jam.



        Jenis-jenis Fraktur atau Patah tulang
        Secara garis besar fraktur dapat dibagi kedalam 3 jenis yaitu sebagai berikut:
    1. Fraktur Tertutup / Close fraktur
          Fraktur tertutup adalah jenis fraktur yang tidak disertai dengan luka pada bagian luar permukaan kulit tidak lah rusak/masih utuh, sehingga bagian tulang yang patah tidak berhubungang dengan bagian luar.
    2. Fraktur Terbuka / Open Fraktur
          Fraktur terbuka adalah suatu kondisi patah tulang yang disertai dengan luka pada daerah tulang yang patah, atau adanya kerusakan pada permukaan kulit sekitar, sehingga bagian tulang yang patah berhubungan dengan udara luar, biasanya juga ikut terjadinya pendarahan yang banyak, tulang yang patah juga ikut terlihat menonjol keluar dari permukaan kulit, namun tidak semua fraktur terbuka membuat tulang terihat menonjol keluar.

          Pada fraktur jenis ini memerlukan pertolongan lebih cepat karena adanya resiko terjadinya infeksi dan faktor penyulit lainnya.
    3. Fraktur Kompleksitas
        Fraktur jenis ini terjadi dua keadaan contohnya pada bagian exstermitas terjadi patah tulang dan pada sendinya juga terjadi dislokasi. 
        Cara Pembidaian Untuk Fraktur dan Dislokasi
          Pembidaian adalah Proses yang digunakan untuk imobilisasi pada penderita fraktur dan Dislokasi. Prisnsip pembidaian harus memfiksasi bagian tulang yang patah dan persendian yang berada di bagian atas dan persendian yang berada dibagian bawah tulang yang fraktur. Dan jika yang cedera adalah sendi maka pembidaian harus menfiksasi sendi tersebut beserta tulang disebelah distal dan bagian proximalnya.
         Jenis-Jenis Pembidaian
         A. Bidai Soft
           Bidai Soft Merupakan Pembidaian yang dibuat dari bahan lembut, seperti bantal, selimut, handuk dan bahan lunaklainnya.
     
         B. Bidai Rigid
         Bidai Rigid adalah pembidaian yang terbuat dari benda yang keras seperti kayu, aluminium, bambu atau benda apapun yang keras.
         C. Bidai Traksi
        Bidai Traksi Digunakan untuk imobilisasi ujung tulang yang patah dari fraktur femur sehingga dapat terhindar dari kerusakan yang lebih lanjut.
         Prinsip Pembidaian
        1. Jika ada keraguan tentang ada atau tidak nya fraktur maka langsung bidai walaupun belum ada kepastiannya. sebelum dilakukan pemeriksaan dirumah sakit
            2. Pembidaian harus melewati minimal 2 sendi yang berbatasan
            3. Jika memungkinkan naikkan bagian tubuh yang mengalami patah tulang
            4. Lakukan pembidaian pada bagian tubuh yang mengalami cedera
     

    Proses Penyembuhan Fraktur 
    Proses penyembuhan fraktur bervariasi sesuai dengan ukuran tulang dan umur pasien. Faktor lainnya adalah tingkat kesehatan pasien secara keseluruhan, atau kebutuhan nutrisi yang cukup. Berdasarkan proses penyembuhan fraktur, maka dapat diklasifikasikan sebagai berikut :  


    1.     Proses hematom
    Merupakan proses terjadinya pengeluaran darah hingga terbentuk hematom (bekuan darah) pada daerah terjadinya fraktur tersebut, dan yang mengelilingi bagian dasar fragmen. Hematom merupakan bekuan darah kemudian berubah menjadi bekuan cairan semi padat (Dicson & Wright, 1992). 
    2.     Proses proliferasi
    Pada proses ini, terjadi perubahan pertumbuhan pembuluh darah menjadi memadat, dan terjadi perbaikan aliran pembuluh darah (Pakpahan, 1996). 
    3.     Proses pembentukan callus pada orang dewasa antara 6-8 minggu, sedangkan pada anak-anak 2 minggu. Callus merupakan proses pembentukan tulang baru, dimana callus dapat terbentuk diluar tulang (subperiosteal callus) dan didalam tulang (endosteal callus). Proses perbaikan tulang terjadi sedemikian rupa, sehingga trabekula yang dibentuk dengan tidak teratur oleh tulang  imatur untuk sementara bersatu dengan ujung-ujung tulang yang patah sehingga membentuk suatu callus tulang (Pakpahan, 1996). 
    4.     Proses konsolidasi (penggabungan)
    Perkembangan callus secara terus-menerus, dan terjadi pemadatan tulang seperti sebelum terjadi fraktur, konsolidasi terbentuk antara 6-12 minggu (ossificasi)  dan antara 12-26 minggu (matur). Tahap ini disebut dengan penggabungan atau penggabungan secara terus-menerus (Pakpahan, 1996). 
    5.     Proses remodeling
    Proses remodeling merupakan tahapan terakhir dalam penyembuhan tulang, dan proses pengembalian bentuk seperti semula. Proses terjadinya remodeling antara 1-2 tahun setelah terjadinya callus dan konsolidasi (Smeltzer & Bare, 2002).  

    Faktor-faktor  yang  Mempengaruhi  Penyembuhan  Fraktur. 
    Fraktur atau patah tulang merupakan keadaan dimana hubungan atau kesatuan jaringan tulang putus. Dalam proses penyembuhan fraktur ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan pada fraktur, antara lain : 


    1.     Usia
    Lamanya proses penyembuhan fraktur sehubungan dengan umur lebih bervariasi pada tulang dibandingkan dengan jaringan-jaringan lain pada tubuh. Cepatnya proses penyembuhan ini sangat berhubungan erat dengan aktifitas osteogenesis dari periosteum dan endosteum. Sebagai contoh adalah fraktur diafisis femur yang akan bersatu (konsolidasi sempurna) sesudah 12 (dua belas) minggu pada usia 12 tahun, 20 (dua puluh) minggu pada usia 20 tahun sampai dengan usia lansia 
    2.     Tempat (lokasi) fraktur
    Fraktur pada tulang yang dikelilingi otot akan sembuh lebih cepat dari pada tulang yang berada di subkutan atau didaerah persendian. Fraktur pada tulang berongga (cancellous bone) sembuh lebih cepat dari pada tulang kompakta. Fraktur dengan garis fraktur yang oblik dan spiral sembuh lebih cepat dari pada garis fraktur yang transversal. 
    3.     Dislokasi fraktur
    Fraktur tanpa dislokasi, periosteumnya intake, maka lama penyembuhannya dua kali lebih cepat daripada yang mengalami dislokasi. Makin besar dislokasi maka semakin lama penyembuhannya. 
    4.     Aliran darah ke fragmen tulang
    Bila fragmen tulang mendapatkan aliran darah yang baik, maka penyembuhan lebih cepat dan tanpa komplikasi. Bila terjadi gangguan berkurangnya aliran darah atau kerusakan jaringan lunak yang berat, maka proses penyembuhan menjadi lama atau terhenti. 

    Penatalaksanaan Pasien yang Menjalani Operasi Fraktur Ekstremitas Bawah  
    1. Jenis Pembedahan 
    Penanganan fraktur pada ekstremitas bawah dapat dilakukan secara konservatif dan operasi sesuai dengan tingkat keparahan fraktur dan sikap mental pasien (Smeltzer  & Bare,  2001). Operasi adalah tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani (Sjamsuhidajat & Jong, 2005). Menurut Smeltzer & Bare (2002) 

    Prosedur pembedahan yang sering dilakukan pada pasien fraktur ekstremitas bawah meliputi :  

    •      Reduksi terbuka dengan fiksasi interna (open reduction and internal  fixation/ORIF). Fiksasi internal dengan pembedahan terbuka akan mengimmobilisasi fraktur dengan melakukan pembedahan untuk memasukkaan paku, sekrup atau pin kedalam tempat fraktur untuk memfiksasi bagian-bagian tulang yang fraktur secara bersamaan. Sasaran pembedahan yang dilakukan untuk memperbaiki fungsi dengan mengembalikan gerakan, stabilitas, mengurangi nyeri dan disabilitas.  


    •      Fiksasi eksterna, digunakan untuk mengobati fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan lunak. Alat ini dapat memberikan dukungan yang stabil untuk fraktur comminuted  (hancur & remuk) sementara jaringan lunak yang hancur dapat ditangani dengan aktif. Fraktur  complicated  pada femur dan tibia serta pelvis diatasi dengan fiksator eksterna, garis fraktur direduksi, disejajarkan dan diimmobilsasi dengan sejumlah pin yang dimasukkan kedalam fragmen tulang. Pin yang telah terpasang dijaga tetap dalam posisinya yang dikaitkan pada kerangkanya, Fiksator ini memberikan kenyamanan bagi pasien, mobilisasi dini dan latihan awal untuk sendi disekitarnya. 


    •      Graft Tulang yaitu penggantian jaringan tulang untuk stabilisasi sendi, mengisi defek atau perangsangan  untuk penyembuhan. Tipe graft yang digunakan tergantung pada lokasi fraktur, kondisi tulang dan jumlah tulang yang hilang karena injuri. Graft tulang mungkin dari tulang pasien sendiri (autograft) atau tulang dari tissue bank (allograft). Graft tulang dengan autograft biasanya diambil dari bagian atas tulang iliaka, dimana terdapat tulang  kortikal dan cancellous bone. Cancellous graft mungkin diambil dari ileum, olecranon, atau distal radius; cortical graft mungkin diambil dari tibia, fibula atau iga. Graft  tulang dengan allograft dilakukan ketika tulang dari pasien itu tidak tersedia karena kualitas tidak baik atau karena prosedur sekunder tidak diinginkan pada pasien (Meeker & Rothrock, 1999). 

    2.  Anastesi bedah fraktur 
    Anastesi adalah kehilangan sensasi baik sebagian atau keseluruhan dengan atau tanpa kehilangan kesadaran. Ini mungkin terjadi sebagai hasil dari penyakit dan cedera atau proses kerja obat atau gas. Dua tipe yang menyebabkan anastesi adalah general yang membuat pasien tidak sadar dan anastesi regional menyebabkan hilangnya kesadaran pada beberapa lokasi tubuh dan membutuhkan pengawasan. Anastesi general (mayor) adalah suatu obat yang menimbulkan depresi susunan saraf pusat yang ditandai analgesia dan tidak sadar dengan hilangnya refleks dan tonus otot (Groah, 1996).  

    Proses anastesi dimulai dengan medikasi praoperasi. Tujuan pemberian medikasi pada praoperasi adalah menghilangkan kecemasan, mengurangi sekresi saluran pernafasan, mengurangi refleks rangsang, menghilangkan nyeri dan mengurangi metabolisme tubuh. Jenis obat yang dipilih adalah golongan barbiturat, narkotik dan anti kolinergik (Groah, 1996). 

    Anastesi regional (lokal) adalah teknik pembiusan yang digunakan pada pasien paska bedah muskuloskeletal untuk menghentikan  transmisi impuls ke dan dari daerah khusus dengan memblok lintasan sodium pada membran saraf. Fungsi pergerakan mungkin terganggu tetapi bisa juga mungkin tidak terganggu, tetapi pasien tidak mengalami kehilangan kesadaran. Teknik pemberian anastesi lokal yang digunakan termasuk topikal, lokal infiltrasi, blok saraf, epidural dan spinal anastesi (Groah, 1996).  

    3. Perawatan Pasien  Paska Operasi Fraktur Ekstremitas bawah dengan ORIF. 
    Asuhan keperawatan pasien paska operasi fraktur ekstremitas bawah dengan  ORIF  mencakup beberapa observasi dan intervensi meliputi: monitor neurovaskuler setiap 1-2 jam, monitor tanda vital selama 4 jam, kemudian set iap 4 jam sekali selama 1-3 hari dan seterusnya. Monitor hematokrit dan hemoglobin. Observasi karakteristik  dan cairan yang keluar, laporkan pengeluaran cairan dari 100-150 mL/hr setelah 4 jam pertama. Rubah posisi klien setiap 2 jam dan sediakan  trapeze  gantung yang dapat digunakan pasien untuk melakukan perubahan posisi. Letakkan bantal kecil di antara kaki klien untuk memelihara kesejajaran tulang. Anjurkan dan bantu  pasien malakukan teknik nafas dalam dan batuk. Memberikan pengobatan seperti analgesik, obat relaksasi otot, antikoagulant atau antibiotik. Anjurkan  weight bearing  yang sesuai dengan kondisi pasien dan melakukan mobilisasi dini (Reeves et al, 2001). 

    Daftar Pustaka:

    Admin,  (2005).  Fraktur dan dislokasi. Diambil tanggal 20 Mei 2009 dari http://indofirstaid.com/situs/index.php?option=com.content&task+view& id+70&itemid=72.
    Apley, A. G. (1995).  Buku Ajar Orthopedi dan Fraktur Sistem Apley. (Alih bahasa Edi, N). (Edisi 7). Jakarta: Widya Medika.

    Sjamsuhidajat, R & Jong, D. W. (2005). Buku Ajar Ilmu Bedah. (edisi 2). Jakarta: EGC.

    Lewis et al. (2000). Medical Surgical Nursing: Assesment and Management of Clinical Problem. (5th edit ion). Phi ladelphia: Mosby.

    Pakpahan, R.H. (1996).  Penyembuhan Fraktur dan Gambaran Histologinya: Bagian Ilmu Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan.

    Dicson, R.A & Wright, V. (1992).  Integrated Clinical Science: Musculoskeletal Disease. London. William Heincman Medical Books Ltd.

    Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. (2002).  Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. (Ed.8). Jakarta: EGC.

    Groah, L.K. & Nicolette, L. H. (1996).  Perioperative Nursing. (3thedit ion). Pennsylvania: Appleton & Lange Stamford, Connecticut.

    Reeves et al. (2001). Keperawatan Medikal Bedah. (Alih bahasa Joko, S). Jakarta: Salemba Medika. 

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar