Fraktur
adalah patah atau retak pada tulang. Ada beberapa jenis fraktur, namun
fraktur yang mengakibatkan fragmen tulang menembus permukaan kulit
(disebut fraktur terbuka) sangat berbahaya. Hilangnya posisi normal
ekstremitas yang retak dapat menghalangi aliran darah ke anggota tubuh
yang terkena. Menurut Smeltzer, 2001. Fraktur adalah
terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai tipe dan luasnya . Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan
atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa (Sjamsuhidayat,
1997). Sedangkan menurut Doenges (2000), fraktur adalah pemisahan atau patahnya
tulang. Fraktur adalah patah
atau gangguan kontinuitas tulang (Depkes, 1995).
- Dislokasi terjadi ketika 2 tulang tidak pada tempatnya di sendi yang menghubungkannya.
- Dislokasi juga dapat menyebabkan luka pada saraf dan pembuluh darah.
- Sendi yang menjadi terkilir dan kemudian sembuh lebih cenderung terkilir lagi.
Klasifikasi
1. Menurut
penyebab terjadinya
a. Faktur Traumatik
: direct atau indirect
b. Fraktur
Fatik (Stress) : kerusakan tulang karena lemahnya yang terjadi akibat tegangan berlebihan
c.
Fraktur patologos : karena adanya penyakit lokal pada tulang. contoh : steoporosis
d. Trauma
berulang, kronis, misal: fr. Fibula pd olahragawan dll.
2. Menurut
hubungan dengan jaringan ikat sekitarnya
a.
Fraktur Tertutup/ Closed/ Fraktur Simplex :
Bila tidak terdapat hubungan antarafragmen tulang dengan dunia
luar, atau patahan tulang tidak mempunyai hubungandengan
udara terbuka.
b.
Fraktur Terbuka/ Open : Bila terdapat hubungan antara
fragmen tulang dengandunia luar karena adanya perlukaan di kulit. Kulit robek
dapat berasal dari dalam karenafragmen tulang yang menembus kulit atau karena
kekerasan yang berlangsung dari luar.
c. Fraktur Komplikasi : kerusakan
pembuluh darah, saraf, organ visera dan persendian juga ikut terkena.
Fraktur seperti ini dapat berbentuk “fraktur tertutup” atau “fraktur terbuka”.
Contoh : fraktur pelvis tertutup+rupture vesica urinaria, fraktur costa+luka
pada paru-paru, fraktur corpus humerus+paralisis nervus radialis
3. Menurut bentuknya
•Fraktur Komplet
: Garis fraktur membagi tulang menjadi 2fragmen atau
lebih. Garis fraktur bisa transversal, oblique, spiral.
•Fraktur
Inkomplet
•Fraktur
Kominutif
•Fraktur
Kompresi / Crush fracture
•Kelainan
ini menentukan arah trauma, fraktur stabil atau tidak
Gejala fraktur atau dislokasi
- Nyeri tekan, pembengkakan, deformitas (perubahan bentuk), dan perubahan warna terjadi dengan fraktur dan/ atau dislokasi.
- Perdarahan terjadi saat tulang yang retak menusuk kulit (fraktur atau fraktur terbuka).
- Sensasi yang dapat hilang di bawah fraktur atau dislokasi, menunjukkan kemungkinan cedera saraf dan/ atau pembuluh darah.
-
Penyebab Terjadinya Fraktur dan Dislokasi1. Akibat Trauma dan benturan yang keras pada bagian tubuh tertentu2. Akibat tekanan yang terus menerus dan berlangsung lama3. Adanya keadaan tidak normal pada tulang atau penyakit tertentu4. Usia juga ikut mempengaruhi.
Tindakan pada korban fraktur atau dislokasi
1. Carilah perawatan medis sesegera mungkin setelah dicurigai adanya fraktur atau dislokasi.
2. Korban mungkin masih bisa memindahkan ekstremitas yang retak. Bila ragu, cari bantuan medis.
3. Carilah pertolongan medis segera jika fraktur atau dislokasi menembus kulit, jika ekstremitas terasa dingin, atau jika denyut nadi atau sensasi berkurang.
4. Carilah perhatian medis segera untuk dislokasi siku, lutut, dan pinggul karena kerusakan saraf mungkin
terjadi.
5. Konsultasikan dengan dokter tentang pengobatan dengan obat yang tersedia.
Penanganan fraktur atau dislokasi
Jika perhatian medis tidak tersedia, cobalah panduan berikut untuk mengobati fraktur atau dislokasi:
- Berikan pack es ke area fraktur atau dislokasi untuk mengurangi pembengkakan dan untuk menghilangkan rasa sakit.
- Basahi luka terbuka yang terkait dengan fraktur dengan air bersih dan segar dan tutupi dengan perban kering.
- Lepas area yang terluka agar tidak bergerak. Lindungi tungkai yang patah dengan menggunakan bahan terbaik yang tersedia, seperti batang kayu, bagian dari kerangka ransel, atau perangkat penstabil lainnya. Bungkus dengan pita di sekitar belat dan ekstremitas yang terkena. Usahakan untuk melumpuhkan sendi di atas dan di bawah fraktur. Misalnya, jika lengan bawah patah, belat harus meliputi dari pergelangan tangan ke tangan dan melintasi siku ke lengan atas, menopang lengan bawah tanpa memposisikan ulangnya.
- Pantau ekstremitas di dekat fraktur atau dislokasi, menilai hilangnya sensasi, penurunan suhu, dan denyut nadi.
Jika
belum ada bantuan medis, membenarkan kembali ekstremitas yang retak
atau terkilir dapat memulihkan atau membenarkan posisi bagian yang patah
dapat memulihkan sirkulasi aliran darah, tetapi juga dapat menyebabkan
kerusakan lebih lanjut pada jaringan, pembuluh darah, atau saraf.
Nyeri bisa dikurangi dengan 1-2 tablet parasetamol (Tylenol) setiap 4
jam atau 1-2 tablet ibuprofen (Advil, Motrin) setiap 6-8 jam.
Jenis-jenis
Fraktur atau Patah tulang
Secara garis
besar fraktur dapat dibagi kedalam 3 jenis yaitu sebagai berikut:
1. Fraktur
Tertutup / Close fraktur
Fraktur
tertutup adalah jenis fraktur yang tidak disertai dengan luka pada bagian luar
permukaan kulit tidak lah rusak/masih utuh, sehingga bagian tulang yang patah
tidak berhubungang dengan bagian luar.
2. Fraktur
Terbuka / Open Fraktur
Fraktur
terbuka adalah suatu kondisi patah tulang yang disertai dengan luka pada daerah
tulang yang patah, atau adanya kerusakan pada permukaan kulit sekitar, sehingga
bagian tulang yang patah berhubungan dengan udara luar, biasanya juga ikut
terjadinya pendarahan yang banyak, tulang yang patah juga ikut terlihat
menonjol keluar dari permukaan kulit, namun tidak semua fraktur terbuka membuat
tulang terihat menonjol keluar.
Pada fraktur
jenis ini memerlukan pertolongan lebih cepat karena adanya resiko terjadinya
infeksi dan faktor penyulit lainnya.
3. Fraktur
Kompleksitas
Fraktur
jenis ini terjadi dua keadaan contohnya pada bagian exstermitas terjadi patah
tulang dan pada sendinya juga terjadi dislokasi.
Cara
Pembidaian Untuk Fraktur dan Dislokasi
Pembidaian adalah
Proses yang digunakan untuk imobilisasi pada penderita fraktur dan Dislokasi.
Prisnsip pembidaian harus memfiksasi bagian tulang yang patah dan persendian
yang berada di bagian atas dan persendian yang berada dibagian bawah tulang
yang fraktur. Dan jika yang cedera adalah sendi maka pembidaian harus
menfiksasi sendi tersebut beserta tulang disebelah distal dan bagian
proximalnya.
Jenis-Jenis
Pembidaian
A. Bidai
Soft
Bidai Soft
Merupakan Pembidaian yang dibuat dari bahan lembut, seperti bantal, selimut,
handuk dan bahan lunaklainnya.
B. Bidai
Rigid
Bidai Rigid
adalah pembidaian yang terbuat dari benda yang keras seperti kayu, aluminium,
bambu atau benda apapun yang keras.
C. Bidai
Traksi
Bidai Traksi
Digunakan untuk imobilisasi ujung tulang yang patah dari fraktur femur sehingga
dapat terhindar dari kerusakan yang lebih lanjut.
Prinsip
Pembidaian
1. Jika ada
keraguan tentang ada atau tidak nya fraktur maka langsung bidai walaupun belum
ada kepastiannya. sebelum dilakukan pemeriksaan dirumah sakit
2.
Pembidaian harus melewati minimal 2 sendi yang berbatasan
3. Jika
memungkinkan naikkan bagian tubuh yang mengalami patah tulang
4. Lakukan
pembidaian pada bagian tubuh yang mengalami cedera
Proses Penyembuhan Fraktur
Proses penyembuhan fraktur
bervariasi sesuai dengan ukuran tulang dan umur pasien. Faktor lainnya adalah
tingkat kesehatan pasien secara keseluruhan, atau kebutuhan nutrisi yang cukup.
Berdasarkan proses penyembuhan fraktur, maka dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :
1. Proses hematom
Merupakan proses terjadinya pengeluaran darah hingga terbentuk hematom (bekuan darah) pada daerah terjadinya fraktur tersebut, dan yang mengelilingi bagian dasar fragmen. Hematom merupakan bekuan darah kemudian berubah menjadi bekuan cairan semi padat (Dicson & Wright, 1992).
Merupakan proses terjadinya pengeluaran darah hingga terbentuk hematom (bekuan darah) pada daerah terjadinya fraktur tersebut, dan yang mengelilingi bagian dasar fragmen. Hematom merupakan bekuan darah kemudian berubah menjadi bekuan cairan semi padat (Dicson & Wright, 1992).
2. Proses proliferasi
Pada proses ini, terjadi perubahan pertumbuhan pembuluh darah menjadi memadat, dan terjadi perbaikan aliran pembuluh darah (Pakpahan, 1996).
Pada proses ini, terjadi perubahan pertumbuhan pembuluh darah menjadi memadat, dan terjadi perbaikan aliran pembuluh darah (Pakpahan, 1996).
3. Proses pembentukan callus pada orang
dewasa antara 6-8 minggu, sedangkan pada anak-anak 2 minggu. Callus merupakan
proses pembentukan tulang baru, dimana callus dapat terbentuk diluar tulang
(subperiosteal callus) dan didalam tulang (endosteal callus). Proses perbaikan
tulang terjadi sedemikian rupa, sehingga trabekula yang dibentuk dengan tidak
teratur oleh tulang imatur untuk sementara bersatu dengan ujung-ujung
tulang yang patah sehingga membentuk suatu callus tulang (Pakpahan,
1996).
4. Proses konsolidasi (penggabungan)
Perkembangan callus secara terus-menerus, dan terjadi pemadatan tulang seperti sebelum terjadi fraktur, konsolidasi terbentuk antara 6-12 minggu (ossificasi) dan antara 12-26 minggu (matur). Tahap ini disebut dengan penggabungan atau penggabungan secara terus-menerus (Pakpahan, 1996).
Perkembangan callus secara terus-menerus, dan terjadi pemadatan tulang seperti sebelum terjadi fraktur, konsolidasi terbentuk antara 6-12 minggu (ossificasi) dan antara 12-26 minggu (matur). Tahap ini disebut dengan penggabungan atau penggabungan secara terus-menerus (Pakpahan, 1996).
5. Proses remodeling
Proses remodeling merupakan tahapan terakhir dalam penyembuhan tulang, dan proses pengembalian bentuk seperti semula. Proses terjadinya remodeling antara 1-2 tahun setelah terjadinya callus dan konsolidasi (Smeltzer & Bare, 2002).
Proses remodeling merupakan tahapan terakhir dalam penyembuhan tulang, dan proses pengembalian bentuk seperti semula. Proses terjadinya remodeling antara 1-2 tahun setelah terjadinya callus dan konsolidasi (Smeltzer & Bare, 2002).
Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Penyembuhan Fraktur.
Fraktur atau patah tulang merupakan
keadaan dimana hubungan atau kesatuan jaringan tulang putus. Dalam proses
penyembuhan fraktur ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan
pada fraktur, antara lain :
1. Usia
Lamanya proses penyembuhan fraktur sehubungan dengan umur lebih bervariasi pada tulang dibandingkan dengan jaringan-jaringan lain pada tubuh. Cepatnya proses penyembuhan ini sangat berhubungan erat dengan aktifitas osteogenesis dari periosteum dan endosteum. Sebagai contoh adalah fraktur diafisis femur yang akan bersatu (konsolidasi sempurna) sesudah 12 (dua belas) minggu pada usia 12 tahun, 20 (dua puluh) minggu pada usia 20 tahun sampai dengan usia lansia
Lamanya proses penyembuhan fraktur sehubungan dengan umur lebih bervariasi pada tulang dibandingkan dengan jaringan-jaringan lain pada tubuh. Cepatnya proses penyembuhan ini sangat berhubungan erat dengan aktifitas osteogenesis dari periosteum dan endosteum. Sebagai contoh adalah fraktur diafisis femur yang akan bersatu (konsolidasi sempurna) sesudah 12 (dua belas) minggu pada usia 12 tahun, 20 (dua puluh) minggu pada usia 20 tahun sampai dengan usia lansia
2. Tempat (lokasi) fraktur
Fraktur pada tulang yang dikelilingi otot akan sembuh lebih cepat dari pada tulang yang berada di subkutan atau didaerah persendian. Fraktur pada tulang berongga (cancellous bone) sembuh lebih cepat dari pada tulang kompakta. Fraktur dengan garis fraktur yang oblik dan spiral sembuh lebih cepat dari pada garis fraktur yang transversal.
Fraktur pada tulang yang dikelilingi otot akan sembuh lebih cepat dari pada tulang yang berada di subkutan atau didaerah persendian. Fraktur pada tulang berongga (cancellous bone) sembuh lebih cepat dari pada tulang kompakta. Fraktur dengan garis fraktur yang oblik dan spiral sembuh lebih cepat dari pada garis fraktur yang transversal.
3. Dislokasi fraktur
Fraktur tanpa dislokasi, periosteumnya intake, maka lama penyembuhannya dua kali lebih cepat daripada yang mengalami dislokasi. Makin besar dislokasi maka semakin lama penyembuhannya.
Fraktur tanpa dislokasi, periosteumnya intake, maka lama penyembuhannya dua kali lebih cepat daripada yang mengalami dislokasi. Makin besar dislokasi maka semakin lama penyembuhannya.
4. Aliran darah ke fragmen tulang
Bila fragmen tulang mendapatkan aliran darah yang baik, maka penyembuhan lebih cepat dan tanpa komplikasi. Bila terjadi gangguan berkurangnya aliran darah atau kerusakan jaringan lunak yang berat, maka proses penyembuhan menjadi lama atau terhenti.
Bila fragmen tulang mendapatkan aliran darah yang baik, maka penyembuhan lebih cepat dan tanpa komplikasi. Bila terjadi gangguan berkurangnya aliran darah atau kerusakan jaringan lunak yang berat, maka proses penyembuhan menjadi lama atau terhenti.
Penatalaksanaan Pasien yang
Menjalani Operasi Fraktur Ekstremitas Bawah
1. Jenis Pembedahan
Penanganan fraktur pada ekstremitas
bawah dapat dilakukan secara konservatif dan operasi sesuai dengan tingkat
keparahan fraktur dan sikap mental pasien (Smeltzer & Bare,
2001). Operasi adalah tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif
dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani (Sjamsuhidajat
& Jong, 2005). Menurut Smeltzer & Bare (2002)
Prosedur pembedahan yang sering
dilakukan pada pasien fraktur ekstremitas bawah meliputi :
- Reduksi terbuka dengan fiksasi interna (open reduction and internal fixation/ORIF). Fiksasi internal dengan pembedahan terbuka akan mengimmobilisasi fraktur dengan melakukan pembedahan untuk memasukkaan paku, sekrup atau pin kedalam tempat fraktur untuk memfiksasi bagian-bagian tulang yang fraktur secara bersamaan. Sasaran pembedahan yang dilakukan untuk memperbaiki fungsi dengan mengembalikan gerakan, stabilitas, mengurangi nyeri dan disabilitas.
- Fiksasi eksterna, digunakan untuk mengobati fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan lunak. Alat ini dapat memberikan dukungan yang stabil untuk fraktur comminuted (hancur & remuk) sementara jaringan lunak yang hancur dapat ditangani dengan aktif. Fraktur complicated pada femur dan tibia serta pelvis diatasi dengan fiksator eksterna, garis fraktur direduksi, disejajarkan dan diimmobilsasi dengan sejumlah pin yang dimasukkan kedalam fragmen tulang. Pin yang telah terpasang dijaga tetap dalam posisinya yang dikaitkan pada kerangkanya, Fiksator ini memberikan kenyamanan bagi pasien, mobilisasi dini dan latihan awal untuk sendi disekitarnya.
- Graft Tulang yaitu penggantian jaringan tulang untuk stabilisasi sendi, mengisi defek atau perangsangan untuk penyembuhan. Tipe graft yang digunakan tergantung pada lokasi fraktur, kondisi tulang dan jumlah tulang yang hilang karena injuri. Graft tulang mungkin dari tulang pasien sendiri (autograft) atau tulang dari tissue bank (allograft). Graft tulang dengan autograft biasanya diambil dari bagian atas tulang iliaka, dimana terdapat tulang kortikal dan cancellous bone. Cancellous graft mungkin diambil dari ileum, olecranon, atau distal radius; cortical graft mungkin diambil dari tibia, fibula atau iga. Graft tulang dengan allograft dilakukan ketika tulang dari pasien itu tidak tersedia karena kualitas tidak baik atau karena prosedur sekunder tidak diinginkan pada pasien (Meeker & Rothrock, 1999).
2. Anastesi bedah
fraktur
Anastesi adalah kehilangan sensasi
baik sebagian atau keseluruhan dengan atau tanpa kehilangan kesadaran. Ini
mungkin terjadi sebagai hasil dari penyakit dan cedera atau proses kerja obat
atau gas. Dua tipe yang menyebabkan anastesi adalah general yang membuat pasien
tidak sadar dan anastesi regional menyebabkan hilangnya kesadaran pada beberapa
lokasi tubuh dan membutuhkan pengawasan. Anastesi general (mayor) adalah suatu
obat yang menimbulkan depresi susunan saraf pusat yang ditandai analgesia dan
tidak sadar dengan hilangnya refleks dan tonus otot (Groah, 1996).
Proses anastesi dimulai dengan
medikasi praoperasi. Tujuan pemberian medikasi pada praoperasi adalah
menghilangkan kecemasan, mengurangi sekresi saluran pernafasan, mengurangi
refleks rangsang, menghilangkan nyeri dan mengurangi metabolisme tubuh. Jenis
obat yang dipilih adalah golongan barbiturat, narkotik dan anti kolinergik
(Groah, 1996).
Anastesi regional (lokal) adalah
teknik pembiusan yang digunakan pada pasien paska bedah muskuloskeletal untuk
menghentikan transmisi impuls ke dan dari daerah khusus dengan memblok
lintasan sodium pada membran saraf. Fungsi pergerakan mungkin terganggu tetapi
bisa juga mungkin tidak terganggu, tetapi pasien tidak mengalami kehilangan
kesadaran. Teknik pemberian anastesi lokal yang digunakan termasuk topikal,
lokal infiltrasi, blok saraf, epidural dan spinal anastesi (Groah, 1996).
3. Perawatan Pasien Paska
Operasi Fraktur Ekstremitas bawah dengan ORIF.
Asuhan keperawatan pasien paska
operasi fraktur ekstremitas bawah dengan ORIF mencakup beberapa
observasi dan intervensi meliputi: monitor neurovaskuler setiap 1-2 jam,
monitor tanda vital selama 4 jam, kemudian set iap 4 jam sekali selama 1-3 hari
dan seterusnya. Monitor hematokrit dan hemoglobin. Observasi karakteristik
dan cairan yang keluar, laporkan pengeluaran cairan dari 100-150 mL/hr
setelah 4 jam pertama. Rubah posisi klien setiap 2 jam dan sediakan
trapeze gantung yang dapat digunakan pasien untuk melakukan
perubahan posisi. Letakkan bantal kecil di antara kaki klien untuk memelihara
kesejajaran tulang. Anjurkan dan bantu pasien malakukan teknik nafas
dalam dan batuk. Memberikan pengobatan seperti analgesik, obat relaksasi otot,
antikoagulant atau antibiotik. Anjurkan weight bearing yang sesuai
dengan kondisi pasien dan melakukan mobilisasi dini (Reeves et al, 2001).
Daftar Pustaka:
Admin, (2005). Fraktur dan dislokasi. Diambil tanggal 20 Mei 2009 dari http://indofirstaid.com/situs/index.php?option=com.content&task+view& id+70&itemid=72.
Apley, A. G. (1995). Buku Ajar Orthopedi dan Fraktur Sistem Apley. (Alih bahasa Edi, N). (Edisi 7). Jakarta: Widya Medika.
Sjamsuhidajat, R & Jong, D. W. (2005). Buku Ajar Ilmu Bedah. (edisi 2). Jakarta: EGC.
Lewis et al. (2000). Medical Surgical Nursing: Assesment and Management of Clinical Problem. (5th edit ion). Phi ladelphia: Mosby.
Pakpahan, R.H. (1996). Penyembuhan Fraktur dan Gambaran Histologinya: Bagian Ilmu Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan.
Dicson, R.A & Wright, V. (1992). Integrated Clinical Science: Musculoskeletal Disease. London. William Heincman Medical Books Ltd.
Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. (Ed.8). Jakarta: EGC.
Groah, L.K. & Nicolette, L. H. (1996). Perioperative Nursing. (3thedit ion). Pennsylvania: Appleton & Lange Stamford, Connecticut.
Reeves et al. (2001). Keperawatan Medikal Bedah. (Alih bahasa Joko, S). Jakarta: Salemba Medika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar